Rp268 triliun bisa jadi Rp89 triliun — tanpa anak yang kelaparan.
Empat lever optimasi (targeting reform, leakage reduction via digital monitoring, local SME procurement, hybrid delivery)
membuka Rp179 triliun realokasi ke intervensi dengan Heckman ROI 13%/tahun.
Membaca istilah CEA · Cost-Effectiveness AnalysisDesil = pembagian populasi jadi 10 kelompok pendapatan (Desil 1 = 10% termiskin, Desil 10 = 10% terkaya).
Targeting Reform = ubah dari universal (semua dapat) ke targeted (yang berhak saja). Multiplier lokal = berapa output ekonomi dihasilkan per Rp1 belanja kalau dibelanjakan di UMKM lokal (1,4–1,6× vs central kitchen 0,8×).
Heckman ROI 13% = setiap Rp1 investasi di intervensi gizi 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) menghasilkan return 13% per tahun sepanjang hidup anak (García-Heckman 2018, NBER WP 23479).
Output vs Outcome = "porsi terdistribusi" (output) vs "stunting turun" (outcome). Yang kedua jauh lebih berarti.
Kalau saya presiden, program ini tidak akan saya buat. Tapi realistis saja — mustahil pemerintah menghilangkan MBG. Yang bisa kita lakukan: bagaimana program ini lebih optimal, bebannya tidak lebih besar, dan jadi lebih baik. Masalahnya bukan ide programnya — tapi efektivitas dan efisiensinya.
{/* Waterfall */}
Waterfall · Dari Rp268T ke Rp88,5T
Net saving setelah investasi infrastruktur digital Rp2,5T (one-time). Payback period 26 hari.
Saving: Rp179T
({...s, src: 'Ferry Irwandi · CEA MBG · Mei 2026'}))}
valueFmt={(v) => `${v.toFixed(1).replace('.', ',')}T`}
/>
Banerjee & Duflo (2011), World Bank Indonesia Bisa 2023, KPK Kajian 2025, ICW estimatesGrafik 04.A
CER = Cost / Effect (Rp per stunting case averted)
Efficiency Gain = MB_targeted / (0,5 × MB_universal) ≈ 1,55 to 1,80
Local Multiplier = 1 / (1 − MPC_local · (1 − tax_leakage − import_leakage))
ROI Digital = (Annual Leakage Reduction × Years) / Investment = (34,8 × 5) / 2,5 = 69,6×
{/* KPI outcome table */}
KPI Outcome 2025–2030
Bukan porsi terdistribusi — outcomes.
Output metrics seperti porsi/anggaran terserap mudah diklaim. Outcome metrics seperti stunting rate, anemia, dan PISA jauh lebih meaningful.
Output = "udah berapa porsi nasi yang dibagikan?" — gampang dihitung, gampang diklaim, tapi nggak tahu apakah anak jadi lebih sehat.
Outcome = "berapa anak yang nggak stunting lagi setelah 5 tahun MBG?" — itu yang sebenarnya kita mau capai.
Sama kayak guru yang ngitung "berapa halaman buku dibaca" (output) vs "berapa siswa yang paham materi" (outcome). Yang kedua jauh lebih berarti.
Subsidi+kompensasi 2026 mencapai Rp501,4T (2,87% PDB), plus perlinsos Rp508,2T. Deadweight loss agregat Rp174T/tahun —
ruang fiskal recoverable tanpa kenaikan tarif pajak.
Memahami "deadweight loss" subsidiDeadweight loss = pemborosan fiskal karena subsidi yang seharusnya tepat sasaran malah bocor ke yang tidak berhak. Rumusnya: L = Outlay × α, di mana α = inclusion-error coefficient (proporsi yang bocor). Misal: subsidi LPG 3kg outlay Rp80,3T, α = 0,68 → DWL Rp54,6T.
Multiplier = berapa Rp output ekonomi per Rp1 belanja pemerintah. Blanket subsidi BBM = 0,4–0,6 (orang kaya nabung). DBT cash ke desil 1–4 = 1,4–1,7 (langsung belanja, putar ekonomi).
DBT = Direct Benefit Transfer, transfer tunai langsung ke rekening penerima (vs subsidi harga komoditas).
DTSEN = Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, basis data NIK terintegrasi (Inpres 4/2025) — pondasi targeting.
Negara sedang memberikan subsidi kepada orang yang tidak berhak menerima subsidi dan mampu membeli dengan harga normal. Daripada negara subsidi harga LPG untuk seluruh populasi, lebih baik negara langsung transfer ke masyarakat miskin.
{/* Deadweight loss stacked bar */}
Deadweight Loss per Jenis Subsidi 2026
L_i = S_i × α_i — outlay × inclusion-error coefficient (Coady et al. 2004 IMF WP)
Setiap Rp1T belanja pemerintah, berapa output yang dihasilkan?
({...d, src: 'LPEM FEB UI 2023, BI WP, World Bank 2024'}))}
valueFormat={(v) => `${v.toFixed(2).replace('.', ',')}×`}
max={2}
/>
DBT cash ke desil 1–4 3,1× lebih besar dari subsidi BBM blanket. Direct transfers 5,3× lebih efektif menurunkan kemiskinan (World Bank 2024).
LPEM FEB UI 2023 · Bank Indonesia WP · World Bank Indonesia 2024Grafik 05.C
Setiap Rp1 triliun subsidi BBM cuma menghasilkan output ekonomi sekitar Rp500 miliar — karena dinikmati orang kaya yang udah punya banyak, mereka nabung selisihnya.
Tapi kalau Rp1 triliun itu dikasih tunai ke 40 juta keluarga miskin? Mereka langsung belanja: beli sembako di warung, bayar SPP, beli baju anak. Outputnya jadi Rp1,55 triliun — 3× lebih besar.
Plus jadi modal usaha buat UMKM lokal.
{/* Estimate saving scenario */}
Total Net Saving 2028–29 (Base)
+Rp50,5T
Net Present Value 10-tahun: +Rp720T (4,1% PDB 2026) · IRR ekonomi ~21%
Geser slider — saksikan bagaimana inflasi, output gap, dan FX deviation menggerakkan rekomendasi BI-Rate via FX-augmented Taylor Rule.
Setiap perubahan US$1/bbl ICP menambah Rp6,7T defisit.
Membaca Taylor RuleTaylor Rule = formula baku ekonom untuk menentukan suku bunga acuan optimal. Inputnya 5: inflasi (π), target inflasi (π*), output gap (selisih PDB aktual vs potensial), FX deviation (selisih kurs vs equilibrium), dan BI-Rate periode lalu. Formula: i = ρ·i₋₁ + (1−ρ)·[r* + π* + α(π−π*) + β(y−y*) + γ(e−e*)].
Smoothing (ρ=0,7) = mencegah perubahan rate yang terlalu drastis — 72% tetap di rate lama, 28% menyesuaikan kondisi baru.
Output gap negatif = ekonomi tumbuh di bawah potensinya (sekarang ≈ −0,5pp menurut HP-filter LPEM).
Menaikkan suku bunga bukan best option, ini tidak ideal. Tapi dari beberapa bulan intervensi yang dilakukan Bank Indonesia belakangan ini, tidak ada yang efektif untuk menahan laju pelemahan rupiah. BI praktis hampir kehilangan semua peluru. Mau tidak mau, basis poin tadi harus dinaikkan.
{/* Taylor Rule Calculator */}
Taylor Rule Calculator · Interaktif
FX-augmented · IMF Country Report 12/278 + Article IV 26/010 calibration
Live
`${v.toFixed(2)}%`}
anchor={`Target π* = ${piStar}%`}
/>
`${v > 0 ? '+' : ''}${v.toFixed(2)} pp`}
anchor={`Saat ini: HP-filter Q1-2026 ≈ −0,5 pp (true 4,89% vs trend 5,30%)`}
/>
`+${v.toFixed(1)}% di atas equilibrium`}
anchor={`Estimasi BI fair value ≈ Rp16.300 · spot Rp17.645 (+8,2%)`}
/>
Estimasi Bayesian dari IMF Country Report 12/278 (Sept 2012) dan IMF Article IV 26/010 (Jan 2026)Calculator 06.A
{/* Oil price slider */}
Dampak Harga Minyak ke APBN
Setiap US$1/bbl di atas asumsi APBN ($70) = +Rp10,3T belanja, +Rp3,6T penerimaan, net +Rp6,7T defisit
Indonesia masih impor banyak BBM. Kalau harga minyak dunia naik $1/barel di atas asumsi APBN ($70),
pemerintah harus tambah bayar subsidi Rp10,3T. Tapi penerimaan dari pajak migas cuma naik Rp3,6T.
Selisihnya Rp6,7T jadi utang baru. Sekarang harga $117 — selisih $47.
Coba geser slider: lihat angka di bawah berubah. Itu uang riil dari pajak kita.
Belanja pemerintah bisa beli waktu, tapi tidak bisa menggantikan produktivitas.
Intervensi BI bisa menahan rupiah, tapi tidak bisa menggantikan ekspor bernilai tambah.
Subsidi bisa meredam rasa sakit, tapi tidak bisa menggantikan reformasi energi yang kita butuhkan.
Pertumbuhan ekonomi bisa terlihat bagus — tapi tanpa kelas menengah yang kuat, kemajuan sosial kita tidak akan pernah kokoh.
E
EcoID
Analisis Jujur Ekonomi Indonesia 2026
Created by INDIE Labs · Mei 2026
"Silakan dokumennya di-download. Silakan kalian bahas, kalian bantah, kalian kritik, kalian buktikan, atau apapun.
Pokoknya buat ruang publik kita itu jadi sesuatu yang menarik untuk didiskusikan. Ini terbuka untuk publik dan tentu mungkin ada banyak salahnya, mungkin ada banyak kekeliruannya — yang pasti ini akan menambah khasanah kita semua."
— Ferry Irwandi · transkrip penutup video
Sumber data primer: BPS · Bank Indonesia · Kemenkeu · IMF · World Bank · S&P GlobalLicense: CC BY-SA 4.0 · Dataset versi 2026.05.18